Mengutarakan Akibat daripada Sebab


“Jadi, kira-kira yang membentukmu seperti ini itu apa ya?”

Tiba-tiba saya jadi tertarik untuk menyelami lebih dalam kesunyian ruang ini. Tatapan mata konselor saya terasa menguliti, selalu seolah saya jadi mikroba yang sedang diamati lewat kaca mikroskop. Akan tetapi, saya ini bukan mikroba dan konselor saya juga bukan orang yang bermaksud mengintimidasi lewat tatapannya yang menembus lensa kacamata—Sumpah, pun saya paham betul dia hanya sedang melakukan pekerjaannya! Namun tangan saya selalu saja lebih dingin dan butuh perhatian, pipi memanas, diikuti dengan pikiran semrawut yang membuat saya tidak tenang lalu merasa keruh. Pikiran saya mengeruh, dan cemas. Saya cemas! Ini bahkan sudah dua minggu setelah pertemuan terakhir dan kami sepakat untuk mulai menerapkan beberapa perilaku sebagai pertolongan pertama setiap saya mulai merasa panik. Masalahnya saya masih merasa gugup dengan konselor saya, juga dengan kemungkinan saya terlihat datang ke kantor psikolog yang ada di sini. Masalahnya lagi, saya tetap masih belum menemukan akar dari akar-akar kecemasan saya dan lebih tertarik untuk tiba-tiba lenyap lalu raib dalam keabsenan bunyi di ruang ini.

Saya bahkan baru sadar hari ini kalau yang saya kira akar itu masih punya akar lagi.

Pikiran saya lantas iseng menelisik fakta ini, bagaimana saya cenderung mengutarakan akibat dan menegaskannya dengan stabilo merah sambil tanpa sadar bersikap abai pada sebab-sebab yang menimbulkan akibat-akibat itu. Menanggulangi akibat memang bukan merupakan tindakan yang salah, tetapi lupa meluruskan sebab setelah berhasil mendapatkan penawar dari akibat ‘kan berpotensi menimbulkan kebingungan yang sama ketika takdir memutuskan ini lucu untuk memadukan unsur-unsur yang sama ke dalam labu eksperimen yang berbeda. Tanpa mengetahui sebab, saya tetap akan merasakan ledakan yang sama lagi—bisa saja intensitasnya sama atau lebih kecil, tapi jika lebih besar? Saya mungkin masih bisa memadamkan api atau cekatan mengatasi luka-luka yang ada, tetapi apakah saya bisa mencegah ledakan itu terjadi kalau saya tetap tidak tahu pasti apa sebab dari ledakan itu? Apakah saya akan pasrah dan selalu mengalami ledakan-ledakan itu di dalam laboratorium hidup? Dalam kasus ini, apakah saya bisa berhenti panik dan tidak menanti akhir dari setiap percakapan asing yang melibatkan saya?

Setelah sampai di titik ini, masalahnya masih tetap sama. Saya tetap tidak tahu akar permasalahannya apa. Jangankan mengetahui akar besar dari kecemasan saya, akar-akar kecil yang selama ini saya tuduh sebagai dalang utama kondisi ini saja masih tidak saya ketahui sebabnya. Kenapa kepanikan saya bisa jadi seserius ini? Kenapa saya kehilangan kemampuan untuk berlagak santai di depan umum? Kenapa saya semakin bingung mengenai salah-benar menghadapi orang? Kenapa saya merasa semakin jauh dan tidak diterima? Kenapa saya semakin merasa gagal dengan benak menjelma untaian benang yang saling terjerat? Kenapa saya seperti ini? Kenapa, kenapa, kenapa. Sekian lama pikiran saya dipenuhi kalimat tanya, baru kali ini saya benar-benar mempertanyakan kenapa.

(Tapi kepala saya sudah pusing dan saya sudah panas-dingin menuliskan ini.)

Memang lebih nikmat dan mudah untuk berfokus kepada akibat. Mungkin karena dengan begitu saya tidak perlu terlalu fokus kepada apa yang perlu diluruskan dari dasar pikiran saya. Mungkin dengan begitu saya tidak perlu mengganti sudut pandang. Atau mungkin dengan tetap berfokus kepada akibat, saya tetap bisa menghidar dan kabur. Konselor saya bahkan sadar kalau ini jadi kebiasaan saya untuk mengatasi kepanikan—Sebenarnya ini nggak semengejutkan itu, tetapi tetap saja rasanya seperti saya sudah tertangkap basah.

Saya serta-merta mengingat kejadian kemarin, bagaimana tidak nyamannya saat harus diskusi dikelilingi dengan teman-teman yang masih membuat saya super gugup. Benar, saya lebih bisa menyikapi orang yang benar-benar asing daripada mereka yang saya kenal tetapi sama sekali tidak sekenal itu. Saya juga lebih santai berinteraksi lewat teks daripada bertemu langsung—oleh karena itu saya bisa menulis ini, itu pun dengan reaksi panik yang intens seolah tulisan ini akan viral di media sosial besok pagi dan semua orang kemudian memperlakukan saya bak barang mudah pecah. Saya ingat betul bagaimana saya mencoba untuk tidak menarik perhatian siapa pun dan bergegas pergi ke toilet setelah diskusi selesai. Kenapa toilet? Karena saya suka sepi dan saya tahu betul kalau toilet di situ adalah yang paling jarang pengunjung. Saya nggak bohong atau sok puitis saat saya bilang saya suka sepi dan ingin ditelan sepi—Tolong sepi, telan saja saya kalau bisa!

Saat seperti itu atau saat-saat saya duduk di kelas dan mendadak panik, saya sudah tidak tahu  lagi kenapa saya panik. Saya lalu ingat presentasi saya yang putus tengah jalan karena pikiran saya sudah meluap dengan entah-apa-itu yang intinya adalah saya cemas dan khawatir. Saya ingat bagaimana malunya saya saat itu, bagaimana hari-hari setelahnya saya lalui dengan perasaan ingin menghilang saja dari penglihatan mereka. Saya selalu dibayangi perasaan gagal akan kehidupan sosial saya saat tiba-tiba merasa kesendirian saya ini adalah hal paling valid di muka bumi. Saya juga ingin mengobrol santai, berinteraksi dengan lepas tanpa takut macam-macam, dan mengenal lebih baik mereka yang selalu saya temui setiap hari. Namun sekali lagi, pikiran saya ini terlanjur rumit dan penuh curiga. Saya lebih baik mundur daripada menghabiskan waktu dengan orang-orang yang rasanya tidak benar-benar minat berbicara dengan saya. Saya lebih baik diam daripada diskusi dengan mata-mata yang rasanya meragukan kemampuan saya. Hehe. Lebih dari apa pun, saat ini saya cuma ingin merasa nyaman dan diterima—tetapi saya juga sadar, ini jadi rumit karena saya saja punya masalah untuk melihat gestur mereka dalam sinar yang positif. Masalahnya, untuk dapat merasa diterima, saya juga harus mau mulai lebih berani menerima—saya harus bisa memulai percakapan, berhenti panik, dan lain-lain sehingga lebih asik.

Saya sadar betul akan semua itu, tapi susah.

Pada akhirnya saya memang masih suka kabur dan berfokus pada akibat-akibat dari kepanikan saya. Saya mungkin akan tetap lebih senang melatih pernapasan perut saya daripada menemukan lalu menceritakan kepada konselor saya apakah sebab yang kita cari-cari itu. Saya mungkin akan tetap salah tingkah dengan jari-jari yang tak pernah diam saat berdekatan dengan mereka yang tidak biasanya ada di situ. Tetapi kalau begitu, artinya saya masih tetap berfokus kepada akibat dan meneruskan rangkaian episode yang sudah membuat saya sangat lelah saat ini. Terlepas betapa nyaman dengungan sepi malam ini atau di ruang kelas yang masih kosong, tidak berhasil menemukan akar dari semua ini adalah hal terakhir yang saya inginkan. Saya ingin berhenti merasakan akibat-akibat itu dalam kehidupan saya. Saya ingin berhenti panik. Atau paling tidak, saya ingin tahu kenapa saya begini sehingga saya bisa sedikit demi sedikit mengantisipasi bagaimana ledakan yang akan terjadi dan berbagai macam dampaknya.

Saya ingin tetap bisa merasa hidup dengan segala ledakan panik yang saya rasakan.


A/N

Saya seharusnya memulai esai untuk UAS tapi ini terus-terusan mengganjal dari tadi, sehingga saya beranikan diri untuk menulis di sini. Anehnya saya tetap panik, ahaha, tapi blog ini satu-satunya media yang sudah saya anggap rumah sehingga saya merasa bebas—dan saya benar-benar harus konsentrasi ke hal lain soalnya. Seandainya ada yang membaca ini dan entah kapan bertemu saya, tolong biasa saja dan jangan bahas tulisan ini. Hehehe.  🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s