All posts by Jingga

Ordinary in my extraordinary world. Daydreamer. (The dreams are not that dreamy to be true, right?)

Daun-Daun Layu

Daun-daun layu disapu, dan
daun-daun disapu remuk, dan
daun-daun remuk
dipeluk

Angin,
yang sepoi rindunya bertiup jengah—
         Akan hadir yang benar sebentar saja
        Akan hati yang tegar sebentar saja

Dan daun-daun itu,
daun-daun layu,
daun-daun remuk,
berserak kotor

Daun-daun layu
remuk
tersisa serbuk

yang menyisa jengah sebab hidup—
         sebab selalu sebentar saja.

Advertisements

Yang Gelap

Untuk Semesta,
yang gelap.

Apa cara yang paling tepat untuk pergi dan menghindari bintang berkelap-kelip mengejekku? Malamku gelap. Hari demi hari semakin kelam. Aku cuma sisa hati yang merayakan terang tawa-tawa yang telah silam.

Kalau kau samudera, ajak aku tenggelam. Kalau kau pusaran debu yang malu untuk berhenti, bawa aku ikut dan tak jadi mati.

Aku mati di sini.

Aku berakhir mendayung sendirian dengan perahu bolong yang miring ke tepi dan semakin lupa basah kuyup karena apa—keringat, air laut yang sama asin, atau air mata yang menjaga bunga-bunga gelap itu tetap subur?

Kau di mana? Aku hampir tiba pada titik terjauh, sangat jauh, hanya untuk kembali jatuh pada tanda tanya besar yang mengakhiri “Aku mau ke mana?”

Semesta, kenapa tak biarkan saja aku pergi? Aku lelah menelusur labirin. Kau cuma gemar menyamar jadi angin, meniup-niup sekacau kau ingin.

Di antara ayun-ayun nasib yang kian buta arah ini, tolong beritahu caranya keluar dari sini. Kau punya teman main lain. Aku ingin mencipta semestaku sendiri.

(Yang mungkin temaram, dan aku cuma tertinggal duka muram.)

Dinding

Aku bicara pada
warna-warna
yang mengelupas tipis-
tipis, selapis-selapis

(Kuning jatuh berserpih,
Putih lunglai terkikis)

Aku bersandar pada
warna-warna elegi
yang gigih

(Kuning remuk berserpih,
Putih semburat ringkih)

Karena ada sisa
cat dan cita tercipta
sedikit,

Pada yang tak cair
oleh air mata
mengalir

Terus, maka dan biar kutemui.

Tiba-Tiba, aku

Mendung seakan surut,
Jemari surya mengurai kepal awan itu,
           lalu menyulut
muram mengharu di sudut
                       Biru
dan berhambur-hamburanlah,
yang sisa waktu itu
         yang percuma,
 persis sewaktu berdebur-debur ombak
                 ambruk di tepi
      yang pendendam betul,

(kubang-kubang hujan pun melompat tinggi-tinggi. ‘Kami sungguh ingin kembali!’)

Sia-sia, sungguh.

Mendadak terang, mendadak biru, mendadak marah, lantas berderu lagi dengan nyanyi-nyanyi kelabu

Seakan mendadak merah dan mendadak ungu,
Mendadak tabah dan mendadak jatuh.

(dan lagi-lagi bukan angin saja, yang gemar berlalu.)

Bak mendung mendadak datang, mendadak surut
Sukmaku yang lantang, tiba-tiba ciut

Maka menjelmalah, aku

Tiba-tiba terbang, (kepakan sayapku nyalang dan beringas!)
Tiba-tiba malang, (pengecut harus mundur bergegas!)

Sia-sia, sungguh.