Category Archives: Chit Chat

Tahun Baru

Saya bukan mereka yang menghabiskan akhir bulan Desember ini dengan meriah. Dari sore saya mendekam di kamar, berbekal handphone yang masih penuh baterainya. Hanya ditemani Radiohead yang sampai sekarang melantunkan “Creep” lewat earphone sambil sesekali chatting sama teman-teman. Sudah.

Malam tahun baru ini–seperti biasanya–biasa saja. Saya masih betah berlama-lama di kamar, masih nyaman menulis apa saja (yang cenderung tidak jelas) dan masih tidak keberatan dengan apa-apa yang saya nikmati sendiri. Emm, nggak sendirian juga sih. Beberapa kali saya keluar kamar dan ngobrol sama keluarga.  Iya, memang biasa saja agenda saya. Namun saya suka dengan semua yang biasa-biasa ini. Ahaha.

Well … tahun baru, ya?

Menurut saya, biasa saja. Toh nggak ada yang baru dari tahun baru. Paling angka tahunnya saja yang berbeda, yang lainnya sih sama–masih dimulai Januari dan diakhiri Desember. Nggak lantas karena ini tahun baru, seketika dunia berubah menjadi sesuatu yang baru. Semuanya masih berputar di poros yang sama. Tekanan hidup yang sama, tuntutan yang sama … semuanya sama.

Haha, kok ini terkesan pesimis sekali ya? Hmm, mungkin dampak dari “I’m a creep, I’m a weirdo” yang dari tadi berdengung di telinga saya dan … “What the hell am I doing here?” Karena nyatanya banyak hal yang saya lakukan, sia-sia. Banyak hal yang saya usahakan, percuma. Rasanya seperti, “I don’t belong here“.

Namun karena ini tahun baru, ya marilah kita rayakan. Mungkin dengan harapan yang lebih sederhana saja. Karena sekali lagi, tahun baru nggak lantas mengubah saya menjadi sosok yang baru. Saya tetaplah saya. Ya … walaupun benar, “I wish I was special“. Bukankah semua orang juga begitu?

Jadi, mari sama-sama panjatkan doa yang lebih singkat dan targetkan capaian yang lebih sederhana. Contohnya? Hmm, kalau saya sih berharap bisa menjadi manusia yang lebih baik dan hidup dengan lebih baik. Nggak sederhana juga, ya? Ahaha. Setidaknya harapan saya itu sudah mewakili semuanya (termasuk dapat nilai baik dan diterima di jurusan dan universitas yang saya inginkan). Hehehe, mari diamini bersama. Aamiin, aamiin, aamiin.

Akhir kata, karena tulisan ini makin nggak terarah, saya ucapkan selamat tahun baru untuk semuanya. Semoga kehidupan kita berjalan dengan lebih baik dan diberkahi dengan semua yang baik. Aamiin.

Terima kasih sudah ada di sini bersama saya dan terima kasih karena sudah menyempatkan menengok “rumah” saya ini. Ehehehe. Semoga semuanya senantiasa sehat dan dapat berbagi rasa dari dunia masing-masing.

Selamat tahun baru! Semangat baru! ^^

Salam hangat,

Je :)xx

#27

Rupanya benar;

Aku memandang rendah diri sendiri. Bukan mereka. Justru mereka yang menggantungkan padaku harapan itu tinggi – tinggi. Dan justru bukan aku.

Aku yang tidak menyayangi diri sendiri. Bukan mereka. Nyatanya merekalah yang menyayangiku. Dan lagi – lagi bukan aku.

Aku putus asa. Bukan mereka. Sehingga semangat merekalah yang menamparku, menarikku berdiri. Dan sekali lagi, bukan aku.

Aku tak yakin tetap teguh tanpa kalian. Pak, Bu, terima kasih untuk ‘selalu’ dan ‘segalanya’. 🙂

#24

Jika ada yang tanya, “Ji, kenapa kamu tidak pernah menulis dalam bahasa jawa?”

Ah, itu…

Susah jawabnya.

Bukannya tak mau, aku berhati – hati. Bukannya tak mampu, aku tak ada diksi. Berbahasa jawa aku tak malu, hanya aku menghormati.

Anu, maksudku, itu.

Dengan kepala tertunduk, ku akui memang aku belum bisa jadi jawa yang njawani. Belepotan jika kau suruh aku bicara krama inggil, padahal aku pun juga ingin. Tak  mengerti kala ku baca salah satu macapat, padahal diksinya yang cantik memikat hati. Pun kedalaman artinya, nggreges ning ati.

Ya, karena itu. Itu aku malu juga akuinya. Tapi ya begitu adanya. Hehehe.

                                       

Benar. Beberapa teman memilih alternatif mudah untuk memanggil saya ‘Ji’. Katanya sih, karena nama Jingga susah untuk dipenggal.

Kurang Ajar

I have loved you for many years,
Maybe I am just not enough…

(Sam Smith – I’m not the only one)

Baiklah, biar aku jelaskan sekarang. Bukankah kurang ajar? Bertahun – tahun bersamanya, mencintai masa sulitnya, menyalakan surut semangatnya dan dia masih saja merasa tidak cukup.

Cih, tidak cukup?

Satu hal yang terlintas seketika saat aku pertama kali mendengarnya, kurang ajar!

**Yang lebih kurang ajar lagi di sini, bagaimana bisa tidak menyalahkan dia yang tidak menghargai, seolah cinta kita yang menahun adalah kesalahan.

Tetapi memang benar;

Waktu membuat lupa,
Tulus membuang luka,
Serakah membuat buta.