Category Archives: puisi

Daun-Daun Layu

Daun-daun layu disapu, dan
daun-daun disapu remuk, dan
daun-daun remuk
dipeluk

Angin,
yang sepoi rindunya bertiup jengah—
         Akan hadir yang benar sebentar saja
        Akan hati yang tegar sebentar saja

Dan daun-daun itu,
daun-daun layu,
daun-daun remuk,
berserak kotor

Daun-daun layu
remuk
tersisa serbuk

yang menyisa jengah sebab hidup—
         sebab selalu sebentar saja.

Advertisements

Dinding

Aku bicara pada
warna-warna
yang mengelupas tipis-
tipis, selapis-selapis

(Kuning jatuh berserpih,
Putih lunglai terkikis)

Aku bersandar pada
warna-warna elegi
yang gigih

(Kuning remuk berserpih,
Putih semburat ringkih)

Karena ada sisa
cat dan cita tercipta
sedikit,

Pada yang tak cair
oleh air mata
mengalir

Terus, maka dan biar kutemui.

Tiba-Tiba, aku

Mendung seakan surut,
Jemari surya mengurai kepal awan itu,
           lalu menyulut
muram mengharu di sudut
                       Biru
dan berhambur-hamburanlah,
yang sisa waktu itu
         yang percuma,
 persis sewaktu berdebur-debur ombak
                 ambruk di tepi
      yang pendendam betul,

(kubang-kubang hujan pun melompat tinggi-tinggi. ‘Kami sungguh ingin kembali!’)

Sia-sia, sungguh.

Mendadak terang, mendadak biru, mendadak marah, lantas berderu lagi dengan nyanyi-nyanyi kelabu

Seakan mendadak merah dan mendadak ungu,
Mendadak tabah dan mendadak jatuh.

(dan lagi-lagi bukan angin saja, yang gemar berlalu.)

Bak mendung mendadak datang, mendadak surut
Sukmaku yang lantang, tiba-tiba ciut

Maka menjelmalah, aku

Tiba-tiba terbang, (kepakan sayapku nyalang dan beringas!)
Tiba-tiba malang, (pengecut harus mundur bergegas!)

Sia-sia, sungguh.

Desember

;di ujung kalender

Belum, ucapmu

Tujuh belum setuju dijamu
Enam tak sempurna disulam
Belas, masih satuan profan
Tahun-tahun yang lupa Tuhan

Belum, katamu

Gerimis masih betah berbasah-basah,
Mengguyur, membanjiri, membasuh,
Anak-anak masih tertawa dan bermain,
Berkejar-kejaran dihimpit harapan tua yang lelah

Belum, katamu

Dunia masih buta dan kaya
Makin tuli dan saling mangsa
dan berisik, dan berisak-isak tangis
Dunia makin meringis dengan perut membuncit

Belum,

Aku belum berakhir dengan indah lagi.


Seharusnya di-post saat tahun baru kemarin, tetapi lupa dan baru ingat.

Gelap, dan Aku Ingin…

Gelap di tengah malam begini,
aku ingin mendekat,
lalu dijerat,
dan bererat-erat,
hingga mungkin lepas segala berat

Aku ingin pulang,
Aku ingin didekap,
Aku ingin terang,
Aku ingin merasakan,

Tuhan,

Aku ingin diyakinkan
Aku ingin mengalir bersama doa dan umpat-umpatan
Aku ingin lebur, berbaur debu-debu jalan
Aku ingin menyatu dengan napas-napas kotor yang bersenandung,

menyenandungkan-Mu;

karena samar dan masih lirih,
Karena kian remang malam ini


Yogyakarta, 1 Maret 2017
panik sebab listrik padam dan padam-padam lainnya.

Menjelang UAS

​Kawanku, hujan saja turun menitik
Angin meniupkan detik pada setiap rintik yang turun,
Mendung menghibur langit dengan kilat dan guntur,
Cuma kau yang tidur bermenit-menit di bawah sarung

Hakikatnya waktu itu selalu menetes,
Menetes, berjatuhan, tak kembali,
Menetes, berjatuhan, biar kalendermu berganti
Menetes, berjatuhan, lalu hilang diserap buku yang tak tuntas kau cicipi

Hakikat tugas itu agar kau penuhi,
Maka celaka jika kau tumpuk-tumpuk sembarangan,
Maka celaka jika kau tumpuk-tumpuk sampai tenggat bertumbangan,
Maka celaka jika kau tumpuk-tumpuk, sampai UAS dikumandangkan

Kawanku, ingatlah kalau detik tak cuma berisik
Ia juga menetes, meruncing, membisiki soal akhir
Ingatlah kalau detik akan kau rindui saat ia kering,
Atau saat tanganmu basah memegang kertas ujian

Kawanku, mungkin benar kata Sapardi,
Yang fana adalah waktu,
Menunda adalah ujian yang abadi

(Yogyakarta, 2 Desember 2016)