Category Archives: Uncategorized

#46

I wish people could easily read my signals; how I am terrified of crowds, how I get intimidated by the attention yet desperate for reaching out, how I wish for not having the urge to vanish, or simply how I try not to break into panic cause the songs I put on repeat just remind me of those who disappear.

I wish people could see me through the correct lense; notice how I keep haunted by the past, but not ready to forget yet–not so fast.

I wish I could stop drowning in the ocean of blames. For regret is never a key to erase the mistakes and life is only a mournful hospitality once you forget how limitless the word “enough” is.

I would never be good enough, though. I would never be the star people try to find when the night comes. I may be the last dew in your garden, always that fragile tiny spot giving in to the heat of the day–not stubborn enough so people would never notice.

But above all, I wish to keep swimming. I wish to keep moving with force of the violent stream of present and future, make my past disappoinment as a living nightmare.

That way, when my eyes are pained and painted with nightmares, would you come and wake me to the present? I wish, I could wish so.

Tawuran

Kau cuma bergerak sedikit lalu tiba-tiba mereka jadi berisik; soal dirimu. Kau tambah gemuk, kau terlihat pucat, kau diam sekali, kau tampak lelah, kau tersenyum terus, kau tambah kurus, kau mudah tertawa, kau aneh, kau banyak berpikir, kau lucu, kau terlihat lebih muda dari yang lain, kau ini, kau itu.

Kau cuma menengah sedikit lalu yang lain menanyai dengan latah. Kenapa kau selalu tersenyum, kenapa namamu begitu, kenapa kau terlihat lelah, kenapa kau selalu tersenyum, kenapa kau diam saja, kenapa hari ini memakai rok, kenapa kau membaca puisi itu, kenapa kau takut, kenapa kau tinggal di situ, kenapa kau begini dan kenapa tidak begitu.

#4: Pain

Sakit…  dan penyucian?

 

Dia mengernyitkan kening dalam. Dua matanya tertutup rapat, sehingga urat – urat di pelipisnya ikut muncul. Kemudian meringis.

Sakit.

 

                Penyucian.

Dunianya berhenti berputar. Satu hal yang senada memenuhi akalnya. Satu hal yang senada soal dua sisi yang berbeda.

Gelap menuju terang, hitam menuju putih, dan sakit

Satu kali lagi nyeri menyerang saraf pada sekujur punggungnya.

                Penyucian.

Bisik rapalan doanya tak berisik, terlampau kecil melawan bising yang berteriak di otaknya.

Semoga seluruh dosanya diampuni.

                Penyucian.

Kemudian ia layak untuk pergi dengan damai.

Karena semua sakit adalah penyucian, dan penyucian itu menjadikan suci.

Suci.

Tanpa noda. Tanpa dosa.

Kemudian pergi.  Damai…

Abadi..

 

[TEASER] Follow Back Me, Please?!

coverrr

Soal perpisahan dan pertemuan maya mereka.

 

Aku percaya, jalan yang kita ambil sekarang akan berakhir di sebuah cabang utama. Cabang yang tidak akan terbagi lagi sehingga kita bisa bertemu dan menyusuri sisanya bersama. Waktu berjalan, takdir berubah. Aku tak akan ambil pusing. Apapun yang terjadi nanti, ku harap kita bertemu dalam suka cita. Dan tanganmu yang dahulu pernah aku genggam di pementasan drama sekolah, tak apa jika sudah ada yang menggenapkannya.

Biar bagaimanapun kita pasti akan bertemu.

Biar bagaimanapun itu…

PS: Seperti tajuknya, ini hanya sebuah teaser dari sebuah fiksi lama yang terbengkalai dan buntu di tengah jalan -,-  Sayang kalau posternya yang sudah jadi hampir setahun yang lalu didiamkan saja, kekeke. Semoga bisa dilanjutkan ya~ heung~

Lots of Love,

Je Eun