#46

I wish people could easily read my signals; how I am terrified of crowds, how I get intimidated by the attention yet desperate for reaching out, how I wish for not having the urge to vanish, or simply how I try not to break into panic cause the songs I put on repeat just remind me of those who disappear.

I wish people could see me through the correct lense; notice how I keep haunted by the past, but not ready to forget yet–not so fast.

I wish I could stop drowning in the ocean of blames. For regret is never a key to erase the mistakes and life is only a mournful hospitality once you forget how limitless the word “enough” is.

I would never be good enough, though. I would never be the star people try to find when the night comes. I may be the last dew in your garden, always that fragile tiny spot giving in to the heat of the day–not stubborn enough so people would never notice.

But above all, I wish to keep swimming. I wish to keep moving with force of the violent stream of present and future, make my past disappoinment as a living nightmare.

That way, when my eyes are pained and painted with nightmares, would you come and wake me to the present? I wish, I could wish so.

Advertisements

Drabble #4: Nasi Goreng

“Sudah, ngaku saja. Kamu nggak bisa bikin nasi goreng.”

Gadis itu berjinjit, mengintip cobek dan pergerakan ragu saya saat meletakkan dua siung bawang putih bersama dengan bumbu lain. Ia mendecakkan lidah, seolah segenggam merica yang saya ambil merupakan salah nalar dalam esai yang sudah tak tertolong lagi. Masalahnya ini bukan esai, dan sejak kapan pembeli boleh menunggu di sini?

“Saya ‘kan sudah bilang, tugas saya bukan bikin nasi goreng.”

“Tapi stan kamu nggak tutup dan nasi goreng masih ada di menu.”

“Tapi—“

“Tapi,” potongnya, “Tiap hari kamu makan nasi goreng! Kamu bahkan kerja di sini! Gimana bisa kamu nggak tahu bumbunya apa?”

“Tahu dari—“

“Sambil baca buku, sambil ngerjain tugas, di sela-sela kerja… kamu bahkan nggak sempat ngunyah. Kamu cuek aja makan jatah nasi goreng selama kerja di sini, abai sama yang lain. Kamu nggak tahu ‘kan di sekitar kamu jualan apa? Kamu nggak takut melewatkan semuanya dan beneran jadi robot?”

Satu detik, dua detik. Saya cuma bisa mengembuskan napas panjang. Tenggorokan saya masih sakit. Saya juga nggak mungkin terlihat marah ke pembeli. “Sebentar, saya nggak paham. Kamu kenapa marah-marah? Terus sejak kapan kamu hafal aktivitas saya? Kita saja baru pertama kali ngobrol hari ini.”

Kalau memungkinkan, mata gadis itu membulat dua kali lipat dari sekarang. “Nah, ‘kan! Kamu memang banyak nggak tahunya! Coba yang kamu lihat bukan cuma sendok dan mesin kasir, kamu pasti tahu kalau setiap hari aku makan di sini! Memangnya siapa yang kemarin ngasih kamu larutan penyegar? Kita bahkan sering duduk sebelahan di bus!”

Saya… cuma bisa melongo.

———

A/N

Ditulis untuk tantangan drabble dari sebuah komunitas, dan saya kelebihan hampir 100 kata. Ahaha. Hasilnya klise memang. Saya aja mengernyit nulisnya. Ng.

#45

I always love the clear night sky. I love how the moon and the venus staring right at me without clouds as their blanket. I love how it reminds me of companionship, how I miss that thing in my life. I adore the stars, shyly winking at me as if they know all of my secrets.

I love how the sky accept the night.

(Don’t you think they are all dancing and glittering in acceptance?)

I’d love to join them, one way or another. I’d love to shine bright, brighter and brighter you will have to cover. And I’d love to be your light too, shining and dancing while the universe is humming in acceptance.

Of us.

Meranggas

Seketika ribut-ribut yang meramaikan ruang ini menemui titik. Kami masih menyandang kerutan di dahi, sedangkan tinggal segelintir yang tenggorokannya masih cukup basah untuk melanjutkan sisa ribut dalam skala bisik. Aku sendiri memilih untuk mengistirahatkan mata sambil menghayati rasa sandaran kursi yang bahkan lebih tua dari umurku—dari kayu, dibuat oleh Kakek tepat setelah aula desa selesai dibangun. Kalau bukan karena rentetan denting ponsel entah-milik-siapa yang tergeletak sembarangan di tengah meja, aku bisa jamin keheningan ini akan terasa lebih lama dari menit yang ditunjukkan oleh kedua lengan jam besar yang menjadi satu-satunya hiasan ruangan ini. Lagipula, waktu memang terasa lebih lama kalau dihabiskan tanpa menikmati diam ‘kan? Begitu pun kami di sini, sama-sama mogok bersuara tetapi juga sama-sama tenggelam dalam diam yang tidak mengenakkan.

Continue reading Meranggas

Desember

;di ujung kalender

Belum, ucapmu

Tujuh belum setuju dijamu
Enam tak sempurna disulam
Belas, masih satuan profan
Tahun-tahun yang lupa Tuhan

Belum, katamu

Gerimis masih betah berbasah-basah,
Mengguyur, membanjiri, membasuh,
Anak-anak masih tertawa dan bermain,
Berkejar-kejaran dihimpit harapan tua yang lelah

Belum, katamu

Dunia masih buta dan kaya
Makin tuli dan saling mangsa
dan berisik, dan berisak-isak tangis
Dunia makin meringis dengan perut membuncit

Belum,

Aku belum berakhir dengan indah lagi.


Seharusnya di-post saat tahun baru kemarin, tetapi lupa dan baru ingat.

Gelap, dan Aku Ingin…

Gelap di tengah malam begini,
aku ingin mendekat,
lalu dijerat,
dan bererat-erat,
hingga mungkin lepas segala berat

Aku ingin pulang,
Aku ingin didekap,
Aku ingin terang,
Aku ingin merasakan,

Tuhan,

Aku ingin diyakinkan
Aku ingin mengalir bersama doa dan umpat-umpatan
Aku ingin lebur, berbaur debu-debu jalan
Aku ingin menyatu dengan napas-napas kotor yang bersenandung,

menyenandungkan-Mu;

karena samar dan masih lirih,
Karena kian remang malam ini


Yogyakarta, 1 Maret 2017
panik sebab listrik padam dan padam-padam lainnya.

#44: Lupa

​“Sama Mas Suradi saja,” jawab Nenek setiap kali ditanya ingin tinggal di rumah Paman atau ikut Ayah tinggal di luar kota. Saat mengatakan itu, keriput di sekitar kelopak matanya akan makin kentara karena pipinya yang kendor terangkat pelan membentuk senyum. Pandangannya penuh harap. Nenek hanya ingin kembali menjalani hari dengan Mas Suradi, kembali hidup bersama Kakek.

Masalahnya, hidup sudah lama pergi dan melepaskan diri dari raga veteran Kakek.

“Sama Mas Kun aja, Bu. Nanti makan urap bareng-bareng tiap pagi.”

Lagi-lagi Nenek menggeleng lembut. “Sama Mas Suradi saja. Wong kemarin Ibu beli nasi urap, anak-anak nggak ada yang ikut makan.”

Jika memungkinkan, Paman, Ayah, dan semua yang menyesaki kamar Nenek menjadi lebih diam. Kami semua terhenyak, sesak dan serak menyerang serentak. Masih kental di ingatan mengenai kejadian nasi urap dua minggu yang lalu, saat Nenek tiba-tiba kembali membawa dua puluh bungkus nasi urap. Nenek kira anak-anaknya berkumpul, lapar dan lelah setelah seharian membantu Kakek membersihkan rumah. Yang Nenek ingat, sebelas anaknya masih remaja badung yang tak pernah puas hanya dengan satu porsi makan siang. Nenek lupa, kalau waktu telah lama berkolaborasi dengan takdir dan merenggut Kakek dalam prosesnya menciptakan saat ini. Nenek lupa, kalau aku dan remaja-remaja badung lain yang sedang berdiri dengan salah tingkah di ruang ini adalah bukti bahwa anak-anaknya telah mendirikan rumah-rumah sendiri.

Aku menelan ludah, cukup keras.

Nenek menggapai tanganku perlahan. Ucapnya lembut, “Mbak, anak saya ada sebelas. Mbak sudah menikah belum?”

mudjirapontur

aku kamu dan rumah lainnya

Blackforest Beach

Sweet, Dark, Elusive

Alive

Amor fati.

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

Aksara Fiony

“ You have to be strong to against all odds ” — Fiony Angelika

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Writers' Secrets

Summer is red, sea is blue. Gonna tell a secret, I'll give you a clue.

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Kopitubruk_

manusia seperti kopi yang punya karakternya masing-masing

countingducks

reflections on a passing life

@denismalhotra

Kita bebas berkata, namun kata-kata belum tentu terkata...

Tulisan Ferdi

Dari Pikiran ke Tulisan

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

fndslc

Menceritakan Segalanya Tentangmu

DEMIGOD SUMMER-CAMP

forget the beach, we have ocean.

ddanghobak

not your usual dose of fanfictions

Lady Modrus' Headquarters

Apabila di dunia ini tidak ada orang gila, maka malang nasibnya bagi mereka yang menganggap dirinya waras.