Tag Archives: Indonesia

Tiba-Tiba, aku

Mendung seakan surut,
Jemari surya mengurai kepal awan itu,
           lalu menyulut
muram mengharu di sudut
                       Biru
dan berhambur-hamburanlah,
yang sisa waktu itu
         yang percuma,
 persis sewaktu berdebur-debur ombak
                 ambruk di tepi
      yang pendendam betul,

(kubang-kubang hujan pun melompat tinggi-tinggi. ‘Kami sungguh ingin kembali!’)

Sia-sia, sungguh.

Mendadak terang, mendadak biru, mendadak marah, lantas berderu lagi dengan nyanyi-nyanyi kelabu

Seakan mendadak merah dan mendadak ungu,
Mendadak tabah dan mendadak jatuh.

(dan lagi-lagi bukan angin saja, yang gemar berlalu.)

Bak mendung mendadak datang, mendadak surut
Sukmaku yang lantang, tiba-tiba ciut

Maka menjelmalah, aku

Tiba-tiba terbang, (kepakan sayapku nyalang dan beringas!)
Tiba-tiba malang, (pengecut harus mundur bergegas!)

Sia-sia, sungguh.

Drabble #4: Nasi Goreng

“Sudah, ngaku saja. Kamu nggak bisa bikin nasi goreng.”

Gadis itu berjinjit, mengintip cobek dan pergerakan ragu saya saat meletakkan dua siung bawang putih bersama dengan bumbu lain. Ia mendecakkan lidah, seolah segenggam merica yang saya ambil merupakan salah nalar dalam esai yang sudah tak tertolong lagi. Masalahnya ini bukan esai, dan sejak kapan pembeli boleh menunggu di sini?

“Saya ‘kan sudah bilang, tugas saya bukan bikin nasi goreng.”

“Tapi stan kamu nggak tutup dan nasi goreng masih ada di menu.”

“Tapi—“

“Tapi,” potongnya, “Tiap hari kamu makan nasi goreng! Kamu bahkan kerja di sini! Gimana bisa kamu nggak tahu bumbunya apa?”

“Tahu dari—“

“Sambil baca buku, sambil ngerjain tugas, di sela-sela kerja… kamu bahkan nggak sempat ngunyah. Kamu cuek aja makan jatah nasi goreng selama kerja di sini, abai sama yang lain. Kamu nggak tahu ‘kan di sekitar kamu jualan apa? Kamu nggak takut melewatkan semuanya dan beneran jadi robot?”

Satu detik, dua detik. Saya cuma bisa mengembuskan napas panjang. Tenggorokan saya masih sakit. Saya juga nggak mungkin terlihat marah ke pembeli. “Sebentar, saya nggak paham. Kamu kenapa marah-marah? Terus sejak kapan kamu hafal aktivitas saya? Kita saja baru pertama kali ngobrol hari ini.”

Kalau memungkinkan, mata gadis itu membulat dua kali lipat dari sekarang. “Nah, ‘kan! Kamu memang banyak nggak tahunya! Coba yang kamu lihat bukan cuma sendok dan mesin kasir, kamu pasti tahu kalau setiap hari aku makan di sini! Memangnya siapa yang kemarin ngasih kamu larutan penyegar? Kita bahkan sering duduk sebelahan di bus!”

Saya… cuma bisa melongo.

———

A/N

Ditulis untuk tantangan drabble dari sebuah komunitas, dan saya kelebihan hampir 100 kata. Ahaha. Hasilnya klise memang. Saya aja mengernyit nulisnya. Ng.

Meranggas

Seketika ribut-ribut yang meramaikan ruang ini menemui titik. Kami masih menyandang kerutan di dahi, sedangkan tinggal segelintir yang tenggorokannya masih cukup basah untuk melanjutkan sisa ribut dalam skala bisik. Aku sendiri memilih untuk mengistirahatkan mata sambil menghayati rasa sandaran kursi yang bahkan lebih tua dari umurku—dari kayu, dibuat oleh Kakek tepat setelah aula desa selesai dibangun. Kalau bukan karena rentetan denting ponsel entah-milik-siapa yang tergeletak sembarangan di tengah meja, aku bisa jamin keheningan ini akan terasa lebih lama dari menit yang ditunjukkan oleh kedua lengan jam besar yang menjadi satu-satunya hiasan ruangan ini. Lagipula, waktu memang terasa lebih lama kalau dihabiskan tanpa menikmati diam ‘kan? Begitu pun kami di sini, sama-sama mogok bersuara tetapi juga sama-sama tenggelam dalam diam yang tidak mengenakkan.

Continue reading Meranggas

Desember

;di ujung kalender

Belum, ucapmu

Tujuh belum setuju dijamu
Enam tak sempurna disulam
Belas, masih satuan profan
Tahun-tahun yang lupa Tuhan

Belum, katamu

Gerimis masih betah berbasah-basah,
Mengguyur, membanjiri, membasuh,
Anak-anak masih tertawa dan bermain,
Berkejar-kejaran dihimpit harapan tua yang lelah

Belum, katamu

Dunia masih buta dan kaya
Makin tuli dan saling mangsa
dan berisik, dan berisak-isak tangis
Dunia makin meringis dengan perut membuncit

Belum,

Aku belum berakhir dengan indah lagi.


Seharusnya di-post saat tahun baru kemarin, tetapi lupa dan baru ingat.