Tag Archives: puisi

Tiba-Tiba, aku

Mendung seakan surut,
Jemari surya mengurai kepal awan itu,
           lalu menyulut
muram mengharu di sudut
                       Biru
dan berhambur-hamburanlah,
yang sisa waktu itu
         yang percuma,
 persis sewaktu berdebur-debur ombak
                 ambruk di tepi
      yang pendendam betul,

(kubang-kubang hujan pun melompat tinggi-tinggi. ‘Kami sungguh ingin kembali!’)

Sia-sia, sungguh.

Mendadak terang, mendadak biru, mendadak marah, lantas berderu lagi dengan nyanyi-nyanyi kelabu

Seakan mendadak merah dan mendadak ungu,
Mendadak tabah dan mendadak jatuh.

(dan lagi-lagi bukan angin saja, yang gemar berlalu.)

Bak mendung mendadak datang, mendadak surut
Sukmaku yang lantang, tiba-tiba ciut

Maka menjelmalah, aku

Tiba-tiba terbang, (kepakan sayapku nyalang dan beringas!)
Tiba-tiba malang, (pengecut harus mundur bergegas!)

Sia-sia, sungguh.

Desember

;di ujung kalender

Belum, ucapmu

Tujuh belum setuju dijamu
Enam tak sempurna disulam
Belas, masih satuan profan
Tahun-tahun yang lupa Tuhan

Belum, katamu

Gerimis masih betah berbasah-basah,
Mengguyur, membanjiri, membasuh,
Anak-anak masih tertawa dan bermain,
Berkejar-kejaran dihimpit harapan tua yang lelah

Belum, katamu

Dunia masih buta dan kaya
Makin tuli dan saling mangsa
dan berisik, dan berisak-isak tangis
Dunia makin meringis dengan perut membuncit

Belum,

Aku belum berakhir dengan indah lagi.


Seharusnya di-post saat tahun baru kemarin, tetapi lupa dan baru ingat.

Gelap, dan Aku Ingin…

Gelap di tengah malam begini,
aku ingin mendekat,
lalu dijerat,
dan bererat-erat,
hingga mungkin lepas segala berat

Aku ingin pulang,
Aku ingin didekap,
Aku ingin terang,
Aku ingin merasakan,

Tuhan,

Aku ingin diyakinkan
Aku ingin mengalir bersama doa dan umpat-umpatan
Aku ingin lebur, berbaur debu-debu jalan
Aku ingin menyatu dengan napas-napas kotor yang bersenandung,

menyenandungkan-Mu;

karena samar dan masih lirih,
Karena kian remang malam ini


Yogyakarta, 1 Maret 2017
panik sebab listrik padam dan padam-padam lainnya.

Malam Jumat Ini

Malam Jumat ini kau akan bangkit, Bung
Dari liang, dari kubur, dari bumi yang telanmu dulu
Dari arus, yang derasnya tak kaugubris hingga denyut terakhirmu

Maka malam ini kau akan bangkit, Bung
Bersama tanah bersimbah darah yang kau wariskan
Bersama cita juga harap, kaurangkai dalam lima

Maka malam ini kau kembali bangkit, Bung
Berpatrolilah!
Ada apa di balik meja di gedung-gedung itu

Maka malam ini kau akan lihat, Bung
Topeng-topeng abdi memalsukan bakti
Silat lidah soal dedikasi untuk negeri
Mangkir dari serapah yang diucap sendiri

Maka kau juga temui, Bung
Bedebah-bedebah itu bersiasat licin
Gerilya, untuk hajat hidup sendiri

Maka malam jumat ini kau harus bangkit, Bung
Kemudian merasuklah, merasuklah, rasukilah!
Agar tak berserak tai yang jadi penyangga negeri

(Klt, 18 Desember 2015)