#48

Baiknya kita permasalahkan saja sekalian; nyala api tinggal asap saat kita makin basah kehujanan. Umpatanmu masih gemericik ragu,
aku nyaris terbakar, enggan berteriak.

Mengapa tidak berakhir saja?
Angin semakin kencang, hujan tajam, dan kita tersisa bentuk.
Sudah luntur semua; tinta, label, cetakan kemasan. Mimpi tak ada lagi untuk memerangkap warna.

Aku ini usang dan sangat kelelahan.
Kau jangan membual soal harapan
cuma karat, yang bersinar pada tubuh kaleng susu tua.

#47

Bunga-bunga mekar. Gerimis mampir. Burung gereja kejar-kejaran dengan bayanganku yang berat hati merelakan hari jadi malam. Terik matahari kemarin mengisyaratkan Tuhan tertawa-tawa karena waktu sudah jelas tak pernah tinggal. Selalu terngiang tiap ia tenggelam lagi di ufuk Barat: “Mengapa kamu berhenti di situ, Sayangku?”

Perubahan

Sepasang matanya berkilatan bak bintang kecil-kecil yang kalah panggung dengan purnama malam ini. Langit lapang sekali semenjak kemarau datang dan serabut awan sudah luruh semua menjadi hujan. Mungkin karena itu juga udara terasa hangat, meskipun satu-satunya yang konstan bertiup ke arahku hanya suaranya. Tawa orang-orang terus bermekaran di sekitar kami, salam rindu semerbak ditukar, dan senyumnya yang bersikeras mengikatku pada momen ini justru terasa makin asing.

Aku tak mengenal lagi tempat ini, orang-orang ini. Aku tak kenal lagi dengannya.

Perkara remeh seputar hidupku banyak ia tanyakan, seolah ia ingin mengulang lagi dongeng basi itu dari awal. Seakan ada yang takut ia lewatkan. Seakan dia perlu mempelajariku lagi dari awal. Sayangnya, aku sebatas kursi usang di haltes bus depan sekolah. Tak ada yang berubah dariku, hanya fakta bahwa halte bus makin ditinggalkan—sudah tak seramai dulu. Jadi kenapa sekarang dia bertingkah seolah kami ini sahabat karib? Kenapa dia harus duduk dan berminat pada suaraku? Aku pun tak mengerti kenapa aku tak bisa berhenti mempertanyakan kenapa, seperti kenapa aku tak menyerah saja dan menyambut kehangatannya. Yang aku rasakan bahwa keberadaanku kini berkarat. Mulutku rasanya getir setiap kali membalas senyumnya, merespons tawanya, menerima antusiasmenya.

Pada saat seperti ini, aku justru mencari-cari senyum canggungnya. Aku tak bisa berhenti mengingat bagaimana dulu kepalanya selalu gelisah mencari arah yang pas untuk menetapkan pandangan, kata-kata lirih selalu tangkas mengakhiri obrolan apa saja yang berusaha melibatkannya. Ah, dua tahun ternyata cukup untuk membuatnya bersinar. Dua tahun… dan seketika semuanya menjelma jadi sosok yang sama sekali lain. Dua tahun yang sama, kuhabiskan sia-sia.

Refleksi

Menemukanmu
mungkin hanya perlu
menelusuri kembali cerita
cinta dan kasih dan
belaian tangan ibu
yang sama teduhnya
dengan mendung;
mengalir turun ia jatuh
dan selalu
menyamarkan
air matamu.

(Yogyakarta, 6 Maret 2019)

TENGGAT

AMMA mengembuskan napas panjang. Aku sontak melirik Rahmi yang masih asik bergulat dengan cabai keriting, bunyi pisaunya mengisi dapur dengan irama ‘tak-tak’ yang stabil. Rajangan cabaiku sendiri masih kurang dari setengah piring, sudah tak ada gairah untuk menyaingi Rahmi. Mataku beralih menempel lagi pada gerak-gerik Amma, mencari apa saja yang berubah dari sikap duduknya yang tegak atau kerutan-kerutan lembut di air mukanya yang tenang—apa saja, sungguh.

Continue reading TENGGAT

#NPC30DWC: Pagi Ini

Awan mengetuk pintu lewat pekarangan. Ia turun melalui titik embun basah yang memantulkan cahaya pagi, menempel pada rumput liar yang belum dipotong. Lewat jendela, langit masih tampak kemerahan. Kuperhatikan tak semerah biasanya. Mungkin karena ini kemarau, matahari jadi lebih cepat merambat dan menyingkirkan sisa-sisa malam. Awan seolah mendobrak pintu, tergesa-gesa karena takut embun keburu menguap. Ia memintaku segera bangun dan keluar rumah.

Sepertinya aku tahu kenapa. Kami tak punya waktu lagi.

Kuperhatikan bagaimana langit beranjak pada warna-warna yang lain. Seiring dengan naiknya matahari, gelap terlalu cepat menjadi terang. Pagi mulai memakai aroma siang. Sebentar lagi orang-orang berseragam akan datang dan mungkin aku akan ikut perang. Mungkin aku hanya akan ikut mengumpat dari belakang. Entahlah. Mungkin aku akan cuma bisa mematung dan memohon keajaiban. Itu pun jika masih ada pertolongan bagi kaum yang tak punya uang.

Di belakangku, mereka yang sudah bangun ikut mengintip lewat jendela. Beberapa yang lain terlibat obrolan sengit soal keharusan bertahan, protes apa lagi yang bisa menghentikan laju alat-alat berat. Pada situasi ini, aku sendiri tak tahu harus memikirkan apa lagi. Kami sudah kehabisan waktu dan terlalu lelah untuk berlindung pada harapan kosong.

“Pulang?” Suaranya serak, hasil merokok semalam suntuk. Uh, sebenarnya karena itu aku jadi tak yakin dengan intonasinya.

“Kamu minta aku pulang?”

Ia mengembuskan napas panjang. “Orang tuamu akan marah kalau kamu nggak pulang.”

“Terus?”

“Ya… aku nggak mau mereka jadi marah.”

Aku menatapnya aneh. “Orang tuaku sudah marah sejak aku main dengan mahasiswa gondrong yang nggak pernah muncul di kelas.”

Dia cuma mengembuskan napas lagi, lalu setengah mengerang berkata, “Kalau kamu nggak pulang, aku nggak bisa jamin kamu aman-aman aja.”

“Aku juga nggak bisa jamin kamu aman-aman aja di sini. Maksudku, itu bukan pilihan kita. Di luar kendali kita.”

“Yakin nggak mau pulang?”

Aku menggeleng mantap. “Nanti. Nanti kalau di sini selesai. Aku mau bantu sampai selesai.”

Ia cuma mengangguk sekali, meringkas jarak kami, lalu ikut mengintip lewat jendela. Pagi ini, sepertinya kami sama-sama tak tahu harus berpikir tentang apa.


P.S. Okay, this is weird.

#NPC30DWC: Tidur

Ia mulai kehilangan hitungan. Lagu yang sama mungkin sudah diulang puluhan… atau ratusan kali, tapi matanya belum juga terpejam. Kantuk belum bisa menyeretnya ke dalam tidur meskipun kelopak matanya seperti digantungi berton-ton beban dari tadi.

Ia berguling ke kanan. Mungkin menghindari jarum jam dinding yang bergerak tepat di depan muka, mengingatkan soal waktu. Namun menghadap ke kanan artinya berhadapan dengan cicak yang bercengkrama di dinding, gelas air yang tinggal seperempat penuh, dan tabung pil tidur yang tak disentuh dari kemarin.

Ia berguling ke kiri. Lalu ke kanan. Lalu mengangkat tangan kiri untuk menggosok… tidak, tepatnya mencubit-cubit daun telinga. Mulutnya terbuka untuk ikut menyanyi. Terdengar sakit dan keras sekali karena ada suara lain sedang mengiris gendang telinganya. Kepalanya sesak dengan pikiran-pikiran kosong yang menguras habis energinya. Ia lantas merapal pelan sekali, “Tolong. Rasanya sudah seabad aku belum tidur. Sudah seabad aku tidak tidur.”

Badannya ikut bangun ketika ia makin sulit menggapai napas. Sepuluh jemari gemetar menekan keras-keras dadanya. Ia menahan hasrat untuk mencapai tabung di sisi kanan. Percuma. Ia hanya akan merasa kalah.

잠자리의집

House of the Dragonfly

The Bias List // K-Pop Reviews & Discussion

K-Pop reviews and discussion with just a hint of bias...

Annetta Darandri

Beauty | Thoughts

Rusdi GoBlog

Karena jurnalistik bukan monopoli wartawan

Fiovoyage

Let's dream and voyage more

MY DIRT SHEET

enter Palace of Wisdom, if you are invited

Tempat Bersuara

Karena kata dapat membuat perubahan

embahnyutz

Jejak Langkah

Kamus Istilah

Yang Pernah Mbuat Aku Bingung

mudjirapontur

aku kamu dan rumah lainnya

Mirabilias

Daily Contemplation and Scribbles

Alive

Amor fati.

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Writers' Secrets

We're some badass with classy attitude

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest